KARYA TULIS
MENGOLAH
SAMPAH ORGANIK
Diajukan Sebagai Syarat Mengikuti Ujian Akhir Sekolah
Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Semester Genap
Tahun Pelajaran 2015/2016
Di Susun Oleh
Nama : Dian Sita Peresa
Kelas : IX E
NIS : 0014170471
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 DENTE
TELADAS
KECAMATAN DENTE TELADAS
KABUPATEN TULANG BAWANG
TP. 2015/2016
MOTTO
.
SELAGI MASIH MUDA
BANYAK-BANYAKLAH MENGGALI ILMU SUPAYA BERGUNA DIKELAK NANTI.
HARGAILAH KARYA ORANG
LAIN, KARENA DENGAN MENGHARGAI KARYA ORANG LAIN BERARTI MENGHARGAI DIRI
SENDIRI.
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ini penulis sampaikan untuk:
- Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tercinta yang telah memberi motifasi
- Dra. Nelly Fauziah selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
- Bapak, Ibu guru dan staf Tata Usaha SMP Negeri 1 Dente Teladas
- Teman-teman terbaikku
- Pembaca yang budiman
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis
MENGOLAH SAMPAH ORGANIK
Diajukan Sebagai
Syarat Mengikuti Ujian Akhir Semester Genap
Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tahun Pelajaran 2015/2016
Penyusun :
Nama :
Dian Sita Peresa
Kelas : IX E
NISN : 0014170471
Menyetujui
Pembimbing/ Wali
Kelas
Guru MP
Bahasa Indonesia
Dra. NELLY FAUZIAH Drs.
BINUKO
NIP.
196408041997022001
NIP. 196702081999031001
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT
karena atas rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya
tulis yang berjudul “Mengolah Sampah Organik” ini dengan
tepat waktu dan tanpa halangan yang berarti. Tak lupa penulis ucapkan terima
kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini.
Pembuatan karya tulis ini tidak
sekedar pembelajaran belaka, namun juga sebagai penambah pengetahuan dan
wawasan bagi pembacanya. Agar penulis dan pembaca dapat mengetahui bagaimana cara
memperlakukan sampah yang banyak kita jumpai di sekitar kita.
Semoga karya tulis ini dapat
memberikan manfaat pula kepada semua pihak bagi penulis maupun pembaca. Namun
tak ada gading yang tak retak, begitu penyusunan karya tulis ini, tak lupa
penulis ucapkan permohonan maaf. Untuk itu, penulis mengharapkan adanya kritik
maupun saran sebagai perbaikan dalam penyusunan selanjutnya.
Dente
Teladas, April 2016
Penulis
Dian Sita
Peresa
NISN. 0014170471
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ........................................................................................ i
MOTTO ............................................................................................................. ii
HALAMAN
PERSEMBAHAN ....................................................................... iii
HALAMAN
PENGESAHAN .......................................................................... iv
KATA
PENGANTAR ...................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
................................................................................ 1
1.1.Latar
Belakang ............................................................................................. 1
1.2.Rumusan
Masalah......................................................................................... 1
1.3.Ruang
Lingkup............................................................................................. 1
1.4.Tujuan dan
Manfaat Penelitian..................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 3
2.1.Pengertian sampah
Organik.......................................................................... 3
2.2.Jenis-Jenis
Sampah Organik.......................................................................... 3
2.3.Prinsip
Pengolahan Sampah.......................................................................... 3
2.4.Pengolahan
Sampah...................................................................................... 4
2.5.Kelebihan
Mengolah Sampah Organik......................................................... 6
2.6.Kekurangan
Mengolah Sampah Organik...................................................... 7
BAB III PENUTUP........................................................................................... 8
3.1.Kesimpulan................................................................................................... 8
3.2.Saran............................................................................................................. 8
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................ 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sampah merupakan
masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Tidak hanya di
Negara-negara berkembang, tetapi juga di Negara-negara maju, sampah selalu
menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia
menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk
khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan
tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan
terjadilah bukit sampah seperti yang sering kita lihat.
Sampah yang menumpuk
itu, sudah tentu akan mengganggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang
tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat. Dan juga dapat mendatangkan wabah
penyakit. Walaupun terbukti sampah itu dapat merugikan, tetapi ada sisi
manfaatnya. Hal ini karena selain dapat mendatangkan bencana bagi masyarakat,
sampah juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat. Kemanfaatan sampah ini
tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
menanganinya.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengolahan
sampah organik yang baik, sehingga menjadikan pupuk kompos hasil olahan sampah
banyak dan dapat diterima oleh petani dan dapat menjadikan pupuk kompos bias
lebih berkwalitas dibandingkan dengan pupuk industri.
1.3
Tujuan Penulisan
Untuk memberikan
pengetahuan kepada pembaca dan masyarakat tentang jenis-jenis sampah organik,
dan menjelaskan tentang cara penanganan sampah organic, bahkan cara pengolahan
sampah organik menjadi bahan yang lebih bermanfaat pada masyarakat luas,
seperti pembuatan kompos dari sampah organik.
1.4
Manfaat Penulisan
Penulis dan pembaca
dapat mengetahui proses pengolahan sampah organik dengan baik dan benar,
sehingga sampah yang dibuang, dan dibiarkan menggunung ditempat pembuangan
akhir, dapat berkurang. Dengan demikian kita dapat membantu pemerintah dalam
penanganan sampah, demi menjaga kelestarian lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Sampah Organik
Sampah adalah merupakan
barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai
sebelumnya, tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang
benar. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat, maka tanda apa yang
kita punya untuk menyatakan bahwa bahan-bahan pokok kehidupan, sebutlah molekul
organik, dan planet-planet sejenis, ada juga di suatu tempat di jagad raya?
sekali lagi beberapa penemuan baru memberikan rasa optimis yang cukup penting.
Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi)
dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut
dengan kompos).
Kompos merupakan hasil
pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah,
rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh
bantuan manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah,
atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah
organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman
umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah
organik dan sisanya anorganik.
2.2 Jenis-Jenis Sampah Organik
Sampah organik berasal
dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, Sampah organik
sendiri dibagi menjadi :
1.
Organik basah.
Istilah sampah organik basah dimaksudkan sampah mempunyai kandungan
air yang cukup tinggi. Contohnya kulit buah dan sisa sayuran.
2.
Organik kering.
Sementara bahan yang termasuk sampah organik kering adalah bahan organik
lain yang kandungan airnya kecil. Contoh sampah organik kering di antaranya
kertas, kayu atau ranting pohon, dan dedaunan kering.
2.3 Prinsip Pengolahan Sampah
Berikut adalah
prinsip-prinsip yang bisa diterapkan dalam pengolahan sampah. Prinsip-prinsip
ini dikenal dengan nama 4R, yaitu:
a.
Mengurangi (reduce)
Sebisa mungkin meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan.
Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang
dihasilkan.
b.
Menggunakan kembali (reuse)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari
pemakaian barang-barang yang sekali pakai, buang (bahasa Inggris: disposable).
c.
Mendaur ulang (recycle)
Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna didaur ulang lagi.
Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industri
tidak resmi (bahasa Inggris: informal) dan industri rumah tangga yang
memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
d.
Mengganti (replace)
Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang
hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama.
2.4 Pengolahan Sampah
Untuk menangani
permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif
pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill
tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan
alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan
pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali
ke ekonomi masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap
sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan
sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada
mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus
meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.
Sampah yang dibuang
harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara
optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti
yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk
mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku
untuk semua jenis dan alur sampah.
Pembuangan sampah yang
tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa
dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari
bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan
kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah
yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang
untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem
daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan.
Program-program sampah
kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin
dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara
berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah
berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi
fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau
pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang
ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam
sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah
zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan
daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang
terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang.
Secara umum, di negara
Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan
komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota.
Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan
dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan
nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang
masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci
ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah
menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan
lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.
Melalui proses
dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang
terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan
mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi
hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah
kompos (compost).
Setiap bahan organik,
bahan-bahan hayati yang telah mati, akan mengalami proses dekomposisi atau
pelapukan. Daun-daun yang gugur ke tanah, batang atau ranting yang patah,
bangkai hewan, kotoran hewan, sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan
mengalami proses dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna
coklat-kehitaman. Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses
dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang
terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan
mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi
hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah
kompos (compost).
Pengomposan
didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik sebagai
agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan
humus. Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos biasanya dimanfaatkan
sebagai pupuk dan pembenah tanah.
Kompos dan pengomposan (composting)
sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Berbagai sumber mencatat bahwa
penggunaan kompos sebagai pupuk telah dimulai sejak 1000 tahun sebelum Nabi
Musa. Tercatat juga bahwa pada zaman Kerajaan Babylonia dan kekaisaran China,
kompos dan teknologi pengomposan sudah berkembang cukup pesat.
Namun demikian,
perkembangan teknologi industri telah menciptakan ketergantungan pertanian
terhadap pupuk kimia buatan pabrik sehingga membuat orang melupakan kompos.
Padahal kompos memiliki keunggulan-keunggulan lain yang tidak dapat digantikan
oleh pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu :
a. Mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan perkembangan
akar dan kemampuannya dalam penyerapan hara;
b. Meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat
menyimpan air lebih ama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah;
c. Menahan erosi tanah sehingga mengurangi pencucian hara;
d. Menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad penghuni tanah
seperti cacing dan mikroba tanah yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.
2.5 Kelebihan Mengolah Sampah Organik
Berikut ini beberapa
manfaat pembuatan kompos menggunakan sampah rumah tangga.
a. Mampu menyediakan pupuk organik yang murah dan ramah lingkungan;
b. Mengurangi tumpukan sampah organik yang berserakan di sekitar tempat
tinggal;
c. Membantu pengelolaan sampah secara dini dan cepat;
d. Menghemat biaya pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA);
e. Mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan sampah akhir (TPA);
f. Menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dan gangguan berupa bau, selokan
macet, banjir, tanah longsor, serta penyakit yang ditularkan oleh serangga dan
binatang pengerat.
2.6 Kekurangan Mengolah Sampah Organik
Setelah menjadi pupuk
kompos, pupuk siap untuk digunakan sebagai penyubur tanah. Adapun kekurangan
pupuk kompos adalah unsur hara relatif lama diserap tumbuhan, pembuatannya
lama, dan sulit dibuat dalam skala besar. Oleh karena itu untuk mendukung
peningkatan hasil-hasil pertanian diperlukan pupuk buatan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan
dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan
sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.
Daur ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan, perton sampah
dibandingkan dengan kegiatan lain dan menghasilkan suatu aliran material yang
dapat mensuplai industri. Salah satu contoh sukses adalah Zabbaleen di Kairo,
yang telah berhasil membuat suatu system pengumpulan daur ulang sampah yang
mampu mengubah/memanfaatkan 85% sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40.000
orang.
Melalui proses dekomposisi terjadi proses daur ulang unsure hara secara
alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah
mati, dengan bantuan mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan
terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk
akhirnya adalah kompos. Namun demikian, perkembangan tekhnologi industry telah
menciptakan ketergantungan pertanian terhadap pupuk kimia buatan pabrik
sehingga membuat orang melupakan kompos. Padahal kompos memiliki keunggulan
–keunggulan lain yang tidak dapat digantikan oleh pupuk kimiawi, yaitu kompos
mampu : Mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan
perkembangan akar dan kemampuannya dalam penyerapan hara. Meningkatkan kemampuan
tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat menyimpan air lebih ama dan
mencegah terjadinya kekeringan pada tanah. Menahan erosi tanah sehingga
mengurangi pencucian hara. Menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan
jasad penghuni tanah seperti cacing dan mikroba tanah yang sangat berguna bagi
kesuburan tanah.
3.2
Saran
a. Pembaca harus dapat mengerti dan lebih mengembangkan masalah pengolahan
sampah melalui tekhnologi-tekhnologi terbaru, agar kita sama-sama dapat
mengendalikan tumpukan sampah yang telah menggunung.
b. Warga sebaiknya mengetahui cara mengendalikan sampah yang paling sederhana
dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan
dengan sampah. Selain itu, masyarakat memiliki konterol sosial budaya menghargai
lingkungan.
c. Pemerintah harus lebih tegas dalam
mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perusak
lingkungan. Agar kerusakan sumber daya dapat dicegah.
DAFTAR PUSTAKA