KARYA TULIS
BUDAYA MASYARAKAT PULAU BALI

Di Susun
Oleh :
Nama : I Wayan Manik Sudarman
Kelas : IX – C
SEKOLAH
MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 DENTE TELADAS
KECAMATAN
DENTE TELADAS
KABUPATEN
TULANG BAWANG
TP.
2015/2016
MOTTO
Pendidikan
merupakan perlengkapan terbaik bagi kita untuk masa depan.
Belajarlah
hingga ke negeri China.
Pendidikan
bukan merupakan sesuatu yang diterima, melainkan sesuatu yang didapatkan.
Ingatlah
bahwa kesuksesan selalu disertai dengan kegagalan.
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ini penulis sampaikan untuk:
- Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tercinta yang telah memberi motifasi
- Dra. Nelly Fauziah selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
- Ibu Herlina Simarta,S.Si selaku wali Kelas IX C
- Bapak, Ibu guru dan staf Tata Usaha SMP Negeri 1 Dente Teladas
- Teman-teman terbaiku
- Pembaca yang budiman
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis
BUDAYA MASYARAKAT PULAU BALI
Diajukan sebagai
Syarat mengikuti ujian akhir sekolah pada mata pelajaran
Bahasa Indonesia semester genap
Tahun pelajran 2015/2016
Penyusun :
Nama : I Wayan Manik Sudarmawan
Kelas : IX c
NISN : 0000504563
Menyetujui
Pembimbing/ Wali
Kelas
Guru MP Bahasa Indonesia
Dra. NELLY
FAUZIAH HERLINA SIMARMATA
NIP. 196408041997022001 NIP. 197901062014072003
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Karya Tulis ini, dengan
judul “Budaya Masyarakat Pulau Bali”, guna melengkapi syarat menempuh Ujian
Nasional di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Dente Teladas Tahun Pelajaran 2015/2016.
Karya Tulis ini di susun berdasarkan hasil survei dan riset yang dilakukan di
objek wisata tersebut.
Penulis karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis sampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Semua
pihak yang telah membantu tesusunnya karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa di dalam
penyusunan karya tulis ini masih ada kekurangan. Hal ini disebabkan
keterbatasan pengetahuan penulis. Untuk itulah, Kritik dan saran yang bersifat
membangun dari para pembaca sangat diharapkan, demi kesempurnaan karya tulis
ini.
Penulis berharap semoga Karya tulis ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Dente
Teladas, September 2015
I Wayan
Manik Sudarmawan
0000504563
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL .................................................................................................... i
MOTTO ......................................................................................................................... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN
................................................................................... iii
HALAMAN
PENGESAHAN ...................................................................................... iv
KATA
PENGANTAR .................................................................................................. v
DAFTAR ISI ................................................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ .... 1
1.1.Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2.Alasan Pemilihan Judul ...................................................................................... 1
1.3.Tujuan Penulisan ................................................................................................ 1
1.4.Metode Penulisan .............................................................................................. 2
1.5.Sistematika Penulisan ........................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN ............................................................................................. 3
2.1.Keadaan Umum Pulau Bali............................................................................ .... 3
2.1.1.
Letak Geografis ..................................................................................... 3
2.1.2.
Wilayah ............................................................................................. .... 3
2.2.Kebudayaan Dan Masyarakat Bali .................................................................... 3
2.2.1.
Sistem Kepercayaan ............................................................................... 3
2.2.2.
Sistem Kasta .......................................................................................... 5
2.2.3.
Sistem Kesenian ..................................................................................... 6
2.2.4.
Sistem Kekerabatan .............................................................................. 6
2.2.5.
Kehidupan Sosial Masyarakat Bali ........................................................ 7
BAB III PENUTUP
...................................................................................................... 9
3.1.Simpulan ............................................................................................................ 9
3.2.Saran .................................................................................................................. 9
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan (Negara yang terdiri dari banyak pulau).
Salah satunya adalah pulau Bali, setiap tahunnya ada wisatawan adiang maupan
domestik yang dating mengunjungi Bali. Mereka tidak hanya tertarik pada
keinfahan alamnya saja, Tetapi mereka juga tertarik pada kebudayaan masyarakat
Bali yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik meskipun banyak kebudayaan
asing masuk ke Bali.
Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk menggambarkan kebudayaan
masyarakat Bali dan obyek wisata yang ada di Bali. Disamping itu penulis juga
ingin mengetahui mengapi pulau Bali sangat terkenal di dunia internasional dan
apa yang membuat wisatawan lebih pertarik pada pulau Bali, padahal banyak
pulau-pulau lain di Indonesia.
1.2.Alasan Pemilihan Judul
Adapun
alasan mengapa penulis memlih judul “Budaya Masyarakat Pulau Bali dan Obyek
Wisatanya” adalah sebagai berikut:
- Penulis ingin mengetahui kebudayaan apa saja yang ada di pulau Bali
- Penulis merasa terterik dengan kebudayaan Bali yang masih dijaga dengan baik dan tidak tergeser oleh masuknya budaya lain
- Penulis ingin menambah wawasan tentang pulau Bali
1.3.Tujuan Penulisan
Adapun penulis menyusun karya tulis ini sebagai berikut:
- Untuk memenuhi syarat menempuh Ujian Nasional dan Ujian Sekolah di SMA (Sekolah Menengah Atas) 3 Pemalang
- Untuk menambah wawasan tentang kebudayaan pulau Bali
- Untuk mempraktekan teori yang didapat dari sekolah
1.4.Metode Penulisan
Dalam
pemyusunan karatulis ini, Penulis menggunakan beberapa metode antara lain:
- Metode Observasi
Yaitu metode
pengumpulan data yang dilakkan dengan mara mengadakan pengamatan langsung
terhadap objek
- Metode Wawancara
Yaitumetode
yang di lakiukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemandu
wisata
- Metode Kepustakaan
Yaitu metode
yangdilakukan dengan cara mengumpulkan buku-buku yang kaitanya dengan
penyusunan karya tulis ini.
1.5.Sistematika Penulisan
Untuk
memudahkanpembaca memahami karya tulis ini, Maka penulis pada bagian ini
menjelaskan isi dari karya tulis ini. Pada bab pendahuluan diberi gambaran
mengenai apa yang akan di bahas penulis secara umum. Pada selanjutnya, Penulis
menjelaskan tentang keadaan pulau Bali.Untuk memberi gambaran lebih jelas
kepada pembaca tentang letak geografis, Wilayah, pemerintah dan penduduk bali.
Pada
kebudayaan dan masyarakat bali, penulis menulis tentang system kepercayaan,
system kasta, syatem kesenia, keragaman etnis orang bali, system kekerabatan,
kehidupan sosialmasyarakat bali. Pada bab selanjutnya, penulis menjelaskan
beberapa obyek wisata yang ada di bali seperti, Tanah Lot, Pantai Sanur Pantai
Kuta, Patung GarudaWisnu Kencana (GWK), Danau Bedugul, Tanjung Beoa Nusa Dua,
Joger Psar Seni Sokawati dan alas Kedhaton.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Keadaan
Umunm Pulau Bali
2.1.1. Letak
Geografis
Provinsi Bali terletak 8o03’40”LS – 8o48”LS dan 144o25’53”BT
– 115o42’400”BT, dengan luas wilayah 5.88,8 km2. Bali
beriklim tropis dengan curah hijan sedang, Sekitar 120 mm perbulan. Musimhujan
terjadi pada bulan Oktober-April dan musim kemarau terjadi pada bulan
April-Oktober.
Pulau
Bali terletak duisebelah timur pulau Jawa, dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara : Laut Jawa
- Sebelah Tmur : Selat Lombok
- Sebelah Selatan : Samudra Indonesia
- Sebelah Barat : Selat Bali
2.1.2. Wilayah
Pulau
bali termasuk dalam kepulauan Nusa Tenggar, Indonesia. Pulau yang luasnya 5.808,8
km2 ini ibelah dua pegunungan yang membujur dari barat
ke timur, Sehingga daratan yang agak sempit disebelah utara dan daratan yang
lebih luas di sebelah Selatan. Pegunungan yang sebagian besar masih tertutup
oleh hutan rimba tersebut mempunyai hal yang penting dalam pandangan hidup dan
kepercayaan penduduk pulau bali. Di wilayah pegunungan itulah terletak
pura-pura yang dianggap suci oleh orang bali , seperti Pura Pulaki, Pura
Batukaru, dan yang utama adalah pura Besakih di kaki gunung Agung yang
merupakan gunung tertinggi di bali.
2.2.Kebudayaan
Dan Masyarakat Bali
2.2.1. Sistem
kepercayaan
Mayoritas masyarakat bali adalah beragama Hindu. Dalam kehidupan beragama,
masyarakat bali yang beragama Hindu percaya adanya satu tuhan dalam bentuk
Trimurti yang Esa yaitu Brahmana (yang menciptakan), Wisnu (yang melindung dan
memelihara), dan siwa (yang lebur). Selain itu masyarakat bali juga percaya
kepada berbagai Dewa yana lain yang kedudukannya yang lebih rendah dari
Trimurti, seperti dewa Wahyu (dewa angin), dan Dewa Indra (dewa perang). Agama
Hindu di Bali juga mempercayai adanya roh abadi (Otman), buah dari setiap
perbuatan (Karmapala), kelahiran kembali dari jiwa (Punarbawa) dan kebebasan
jiwa (moksa), semua ajaran-ajaran itu berada di kitab Wedha.
Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama Hindu di Bali dinamakan
Pura atau Sangah. Tempat ibadah ini berupa sekelompok bangunan-bangunan suci
yang sifatnya berbeda-beda. Ada yang bersifat umum seperti Pura desa dan ada
yang sifatnya khusus yaitu Pura keluarga. Di bali terdapat beribu-ribu pura
atau sangeh yang masing-masing pura tersebut mempunyai hari upacara (hari
perayaan) tertentu sesuai denga perayaan leluhur mereka yang telah ditentukan
oleh sistem tanggalanya sendiri-sendiri.
Upacara tradisional khas Bali yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan adalah
upacara Ngaben. Ngaben adalah upacara pembalkaran mayat di Bali. Dengan
demikian, setiap orang yang sudah meninggal tidak cikubur melainka dibakar.
Upacara ini memerlukan biaya yang cukup besar, dan biasanya dilakukan
oleh orang-orang yang mampu saja. Sebalum dibakar terlebih dahulu orang yang
meninggal diletakan di sebuah tandu panjang (seperti keranda), kemudian dibawa
ketempat pembakaran. Tandu ini biasanya diangkat oleh empat sampai delapan
orang yang merupakan kerabat atau saudara dekat dari orang yang meninggal.
Dalam perjalanan pengiring mengucapkan puji-pujian dan nyanyian sebagai
pemujaan yang dipimpin oleh pemangku setelah sampai di tempat pembakaran,
sebelum masuk pintu, tandu tersebut diputar-putar sebanyak tiga kali, sebagai
tanda penghormatan dan izin untuk memasuki tempat pembakaran. Setelah dibakar,
kemudian abu tersebut di buang kelaut, ada juga yang disimpan di tempat khusus.
Selain upacara Ngaben, ada juga upacara lain seperti upacara hariraya Nyepi,
Ngebak Geni, Hari Raya Kuningan, Hari raya Galungan, dll.
Keseluruhan upacara di bali dapart di kelompokan sebagai berikut :
- Manusia Nyadan, yaitu upacara siklus dari anak-anak sampai dewasa
- Putra Nyadan, yaitu upacara untuk roh-roh
- Dewa Nyadan, yaitu upacara pembesaran
- Buta Nyadan, yaitu upacara yang ditunjukan untuk roh-roh jahat
2.2.2. Sistem Kasta
Akibat kuat
agama Hindu, di Bali berlaku sistem kasta, yaitu pemisahan masyarakat
berdasarkan kedudukan atau tingkat kehormatan. Berdasarkan hal tersebut,
masyarakat Bali dibedakan menjadi 4 Kasta, yaitu :
1. Kasta Brahmana
Kasta ini ditempati olah para dewa kerajaan, seperti
pendeta. Kasta ini merupakan kasta tertinggi di bali, sehingga seseorang dapat
menduduki kasta ini sangat dihormati oleh masyarakat umum atau kasta
dibawahnya.
2. Kasta Ksatria
Kasta ini ditempati oleh para bangsawan kerajaan
seperti raja, pangeran dan berbagai pengawal kerajaan seperti patih dan
panglima perang, pejabat-[ejabat kerajaan yang diberi wewenang untuk memimpin
daerah tertentu dibawah daerah kekuasaan raja. Kasta Ksatria dianggap kasta
yang mempunyai gengsi dan martabat atau derajat yang tinggi bagi orang yang ada
di dalamnya.
3. Kasta Waisya
Kasta ini di tempati oleh para petani dan pedagang.
Petani di bali juga digolongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kekayaan
material atas kepemilikana tanah, sawah dan tempat tinggal.
- Petani Kelas Atas
Petani karya atas adalah mereka yang mempunyai
penghasilan atas sawah atau ladang lebih dari cukup dan bisa di gunakan untuk
mencukupi dan menghidupi seluruh keluarga dan saudaranya. petani karya atas ini
memiliki sawah lebih dari 5 hektar dan juga memiliki tanah pekarangan beserta
halman untuk rumah tempat tinggalnya. Bagi petani karya atas, penggarapan sawah
tidak dilakukan sendiri, tetapi dengan cara mempekerjakan buruh tani atau dari
kasta sudra.
- Petani Kaya Sedang
Petani golongan ini mempunyai sawah dengan luas 1-5
hektar atau mempunyai sawah cukup luas, hingga hanya dapat mencukupi kebutuhan
keluarganya sendiri, tetepi untuk mencukupi kebutuhan saudaranya ditangguhkan.
- Petani Kaya Bawah
Yaitu petani yang hanya mempunyai sawah kurang dari 1
hektar. Petani ini mengolah sendiri sawah mereka, hasilnya sebagai konsumsi
pribadi beserta keluarganya.
4. Kasta Sudra
Kasta Sudra pada masyarakat bali yaitu mereka yang
keberadaanya kurang dihormati. Golongan kasta Sudra ini tidak memiliki hak
kepemilikan atas tanah pekarangan atau rumah tempat tinggal. Kasta ini
merupakan kasta terendah dalam pembagian kasta di bali.
2.2.3. Sistem
Kesenian
Sistem keseniandi bali antara lain tari-tarian Bali, rumah adat dan pakaian
adat bali. Tari-tarian Bali seperti tari Legong dan tari Kecak sanat disukai
oleh wisatawan. Tari Legomg merupakan tari yang menceritakan kisah cinta raja
Lasem, sementara tari Kecak mengiahkan tentang Bola Tantra Kera Hanoman dan
Sugriwa.
Beberapa rumah adat di bali antara lain gapura candi Bentar yang merupakan
pintu masuk istana raja. Balai Bengong yaitu tempat peristirahatan raja beserta
kori Babetelan yaitu pintu masukuntuk upacara keluarga.
Pakaian adat bali pria adalah ilat kepala (destar) kain songket Saput dan
sbilah Keris yang diselipkan kepinggang bagian belakang. Sedangkan untuk wanita
umumnya menggunakan dua helai kain songket, stangen Songket dan selendang,
serta memakai hiasan bunga emas da bunga kamboja.
2.2.4. Sistem
Kekerabatan
Perkawinan merupakan hal yang paling
penting dalam kehidupan manusia, demikian juga dengan masyarakat bali yang
memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai warga masyarakat, untuk
melakukan perkawinan.
Menurut ajaran adat lama yang banyak dipemgaruhi oleh
sistem klan-klan (dadra) dan sistem kasta (wangsa), perkawinan dilakukan antara
warga se-klan atau antara warga yang sianggap sederajat dalam kasta. Sementara
perkawinan yang dianggap pantangan adalah perkawinan Bentukar (makadengan ngad)
yaitu perkawinan antara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri,
perkawinan ini dianggap pantangan karena menurut kepercayaan dapat mendatangkan
bencana. Selain itu, perkawinan pantangan lain yang merupakan dosa besar adalah
perkawinan antara seseorang dengan anaknya, seseorang dengan saudara kandungnya
atau saudara tirinya dan antara seseorang dengan anak dari saudara perempuan
maupun laki-lakinya.
Pada umumnya pemuda di bali dapat
memperoleh seorang istri dengan dua cara yaitu cara memina kepada keluarga si
gadis atau dengan melarikan si gadis.kedua cara tersebut merupakan adat-adat
perkawinan di bali. Kedua cara tersebut dilakukan dengan melakukan kunjungan
resmi dari keluarga si pemuda kepada si gadis, guna meminang si gadis atau
dengan memberitahukan kepada keluarga si gadis bahwa si gadis telah di bawa
lari untuk di kawinkan. Kemudian diadakan upacara perkawinan dan kunjunga resmi
dari keluarga si pemuda kerumah orang tua si gadis untuk meminta diri
kepada roh nenek moyang si gadis.
Setelaha menikah, biasanya pasangan suami istri baru
menetap di kompleks perumahan dari orang tua si suami. Tetepi tidak sedikit
suami istri baru menetap di rumah baru. Sebalikanya ada pula suatu adat
perkawinan dimana pasangan suami istri baru menetap di kompleks perumahan
keluarga si istri.
2.2.5. Kehidupan
Sosial Masyarakat Bali
1. Banjar
Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan
wilayah social yang didasarkan pada kesatuan wilayah. Kesatuan sosial tersebut
diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara, upacara keagamaan yang keramat. Di
daerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pada yang lahir di
wilayah banjar tersebut. Sedangkan di daerah datar, sifat keanggotaanya tidak
tertutup dan terbataspada orang-orang asli yang lahir di Banjar itu. Orang dari
wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan kebatulan menetap di Banjar
bersangkutan di pisahkan untuk menjadi anggota (karma Banjar) jika yang bersangkutan
menghendaki. Pusat banjar adalah Bale Banjar, di mana warga Banjar bertemu pada
hari-hari yang tetap. Banjar di kepalai oleh seorang kepala yang disebut kelai
Banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan
dari Banjar sebagai suatu komunitas, tetapi juga lapangan kehidupan beragama.
Selain itu, ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut adat. Kadang
kalian Banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan administrasi
pemerintahan.
2. Subak
Subak di bali seolah-olah lepas dari Banjar, dan
mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi warga Subak tidak semuanya sama
dengan orang yang menjadi anggota Banjar. Warga Subak adalah oemilik atau
penggarap sawah yang menerima air irigasi dari bendungn-bendungan yang di urus
oles suatu subjek.
3. Seka
Dalam kehidupan masyarakat bali, ada
organisasi-organisasiyang bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus yaitu
Seka. Orgsnisasi ini bersifat turun-temurun, tetepi adapula yang bersifat
sementara. Ada seka yang fungsinya menyelenggarakan hal-hal atau
upacara-upacara yang berkenaan dengan desa, misalnya Seka Baris (perkumpulan
tari baris), Seka teruna-teruni, Seka tersebut sifatnya permanen. Dan yang
bersifat sementara seperti Seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan
tertentu, misalnya Seka Memula (perkumpulan menuai), Seka Gong (perkumpulan
gamelan), Seka-seka tersebut biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari
organisasi Banjar maupun desa.
4. Gotong Royong
(Ngupoin)
Meliputi aktifitas disawah (seperti menanam,menyiangi,
memanen, dll) dalam sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding
rumah, memperbaiki sumur, dll), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara
yangdi adakan oleh suatu keluarga atau dalam peristiw kecelakaan dan kematian,
Mgupoin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahw bantuan tenaga
yang diberikan wajib di balas dengan tenaga juga.
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Setelah menyusun karya tulis ini,
penulis menyimpulkan :
- Pulau Bali sangat terkenal di dunia internasional karena memiliki keindahan alam dan seni budaya yang sangat menarik, serta masyarakat Pulau Bali dapat bersatu dengan alam Pulau Bali.
- Meskipun Bali banyak dimasuki oleh orang asing, tetapi masyarakat Pulau Bali dapat terus menjaga kebudayaan asli mereka.
3.2. Saran
Setelah mengetahui hasil observasi,
penulis menyarankan :
- Hendaknya pemerintah Bali dan masyarakat Bali menjaga kebudayaan Bali yang merupakan bagian dari warisan leluhur bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Brosur Mutiara Wisata. 2007.
Pedoman Penyusun Karya Tulis Siswa SMA Negeri 3
Pemalang. Pemalang.
Astika, Ketut Sudhana. 1999. Analisis Kebudayaan.
Jakarta : Depdikbud.
Tim Antropologi. 1996. Panduan Belajar Antropologi
kelas 3 SMU. Jakarta :
Yudhistira.
Rifqi - Com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar