Senin, 21 September 2015

karya tulis terbaru 2015



KARYA TULIS

BUDAYA MASYARAKAT PULAU BALI





Di Susun Oleh :
Nama  : I Wayan Manik Sudarman
Kelas   : IX – C





SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 DENTE TELADAS
KECAMATAN DENTE TELADAS
KABUPATEN TULANG BAWANG
TP. 2015/2016
MOTTO

Pendidikan merupakan perlengkapan terbaik bagi kita untuk masa depan.

Belajarlah hingga ke negeri China.

Pendidikan bukan merupakan sesuatu yang diterima, melainkan sesuatu yang didapatkan.

Ingatlah bahwa kesuksesan selalu disertai dengan kegagalan.


















HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya tulis ini penulis sampaikan untuk:
  1. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik tercinta yang telah memberi motifasi
  2. Dra. Nelly Fauziah selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
  3. Ibu Herlina Simarta,S.Si selaku wali Kelas IX C
  4. Bapak, Ibu guru dan staf Tata Usaha SMP Negeri 1 Dente Teladas
  5. Teman-teman terbaiku
  6. Pembaca yang budiman





















HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis
BUDAYA MASYARAKAT PULAU BALI

Diajukan sebagai
Syarat mengikuti ujian akhir sekolah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia semester genap
Tahun pelajran 2015/2016


Penyusun :
Nama   : I Wayan Manik Sudarmawan
Kelas   : IX c
NISN  : 0000504563


Menyetujui
Pembimbing/                                                                                       Wali Kelas
Guru MP Bahasa Indonesia




   Dra. NELLY FAUZIAH                                                             HERLINA SIMARMATA
NIP. 196408041997022001                                                            NIP. 197901062014072003





KATA PENGANTAR

            Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Karya Tulis ini, dengan judul “Budaya Masyarakat Pulau Bali”, guna melengkapi syarat menempuh Ujian Nasional di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Dente Teladas Tahun Pelajaran 2015/2016.
            Karya Tulis ini di susun berdasarkan hasil survei dan riset yang dilakukan di objek wisata tersebut.
            Penulis karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis sampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Semua pihak yang telah membantu tesusunnya karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan karya tulis ini masih ada kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan penulis. Untuk itulah, Kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat diharapkan, demi kesempurnaan karya tulis ini.
Penulis berharap semoga Karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Dente Teladas,    September 2015



I Wayan Manik Sudarmawan
0000504563








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i
MOTTO ......................................................................................................................... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................................. v
DAFTAR ISI ................................................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ .... 1
1.1.Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2.Alasan Pemilihan Judul ...................................................................................... 1
1.3.Tujuan Penulisan ................................................................................................ 1
1.4.Metode Penulisan .............................................................................................. 2
1.5.Sistematika Penulisan ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3
2.1.Keadaan Umum Pulau Bali............................................................................ .... 3
2.1.1.      Letak Geografis ..................................................................................... 3
2.1.2.      Wilayah ............................................................................................. .... 3    
2.2.Kebudayaan Dan Masyarakat Bali .................................................................... 3
2.2.1.      Sistem Kepercayaan ............................................................................... 3
2.2.2.      Sistem Kasta .......................................................................................... 5
2.2.3.      Sistem Kesenian ..................................................................................... 6
2.2.4.      Sistem Kekerabatan  .............................................................................. 6
2.2.5.      Kehidupan Sosial Masyarakat Bali ........................................................ 7
BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 9
3.1.Simpulan ............................................................................................................ 9
3.2.Saran .................................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
         Indonesia merupakan Negara kepulauan (Negara yang terdiri dari banyak pulau). Salah satunya adalah pulau Bali, setiap tahunnya ada wisatawan adiang maupan domestik yang dating mengunjungi Bali. Mereka tidak hanya tertarik pada keinfahan alamnya saja, Tetapi mereka juga tertarik pada kebudayaan masyarakat Bali yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik meskipun banyak kebudayaan asing masuk ke Bali.
         Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk menggambarkan kebudayaan masyarakat Bali dan obyek wisata yang ada di Bali. Disamping itu penulis juga ingin mengetahui mengapi pulau Bali sangat terkenal di dunia internasional dan apa yang membuat wisatawan lebih pertarik pada pulau Bali, padahal banyak pulau-pulau lain di Indonesia.

1.2.Alasan Pemilihan Judul
         Adapun alasan mengapa penulis memlih judul “Budaya Masyarakat Pulau Bali dan Obyek Wisatanya” adalah sebagai berikut:
  • Penulis ingin mengetahui kebudayaan apa saja yang ada di pulau Bali
  • Penulis merasa terterik dengan kebudayaan Bali yang masih dijaga dengan baik dan tidak tergeser oleh masuknya budaya lain
  • Penulis ingin menambah wawasan tentang pulau Bali

1.3.Tujuan Penulisan
         Adapun penulis menyusun karya tulis ini sebagai berikut:
  • Untuk memenuhi syarat menempuh Ujian Nasional dan Ujian Sekolah di SMA (Sekolah Menengah Atas) 3 Pemalang
  • Untuk menambah wawasan tentang kebudayaan pulau Bali
  • Untuk mempraktekan teori yang didapat dari sekolah

1.4.Metode Penulisan
         Dalam pemyusunan karatulis ini, Penulis menggunakan beberapa metode antara lain:
  • Metode Observasi
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakkan dengan mara mengadakan pengamatan langsung terhadap objek
  • Metode Wawancara
Yaitumetode yang di lakiukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemandu wisata
  • Metode Kepustakaan
Yaitu metode yangdilakukan dengan cara mengumpulkan buku-buku yang kaitanya dengan penyusunan karya tulis ini.

1.5.Sistematika Penulisan
         Untuk memudahkanpembaca memahami karya tulis ini, Maka penulis pada bagian ini menjelaskan isi dari karya tulis ini. Pada bab pendahuluan diberi gambaran mengenai apa yang akan di bahas penulis secara umum. Pada selanjutnya, Penulis menjelaskan tentang keadaan pulau Bali.Untuk memberi gambaran lebih jelas kepada pembaca tentang letak geografis, Wilayah, pemerintah dan penduduk bali.
         Pada kebudayaan dan masyarakat bali, penulis menulis tentang system kepercayaan, system kasta, syatem kesenia, keragaman etnis orang bali, system kekerabatan, kehidupan sosialmasyarakat bali. Pada bab selanjutnya, penulis menjelaskan beberapa obyek wisata yang ada di bali seperti, Tanah Lot, Pantai Sanur Pantai Kuta, Patung GarudaWisnu Kencana (GWK), Danau Bedugul, Tanjung Beoa Nusa Dua, Joger Psar Seni Sokawati dan alas Kedhaton.






BAB II
PEMBAHASAN


2.1.Keadaan Umunm Pulau Bali
2.1.1.      Letak Geografis
         Provinsi Bali terletak 8o03’40”LS – 8o48”LS dan 144o25’53”BT – 115o42’400”BT, dengan luas wilayah 5.88,8 km2. Bali beriklim tropis dengan curah hijan sedang, Sekitar 120 mm perbulan. Musimhujan terjadi pada bulan Oktober-April dan musim kemarau terjadi pada bulan April-Oktober.
         Pulau Bali terletak duisebelah timur pulau Jawa, dengan batas-batas sebagai berikut:
  • Sebelah Utara              :           Laut Jawa
  • Sebelah Tmur              :           Selat Lombok
  • Sebelah Selatan           :           Samudra Indonesia
  • Sebelah Barat              :           Selat Bali

2.1.2.      Wilayah
         Pulau bali termasuk dalam kepulauan Nusa Tenggar, Indonesia. Pulau yang luasnya 5.808,8 km2 ini ibelah dua pegunungan yang  membujur dari barat  ke timur, Sehingga daratan yang agak sempit disebelah utara dan daratan yang lebih luas di sebelah Selatan. Pegunungan yang sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba tersebut mempunyai hal yang penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk pulau bali. Di wilayah pegunungan itulah terletak pura-pura yang dianggap suci oleh orang bali , seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan yang utama adalah pura Besakih di kaki gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di bali.

2.2.Kebudayaan Dan Masyarakat Bali
2.2.1.      Sistem kepercayaan
            Mayoritas masyarakat bali adalah beragama Hindu. Dalam kehidupan beragama, masyarakat bali yang beragama Hindu percaya adanya satu tuhan dalam bentuk Trimurti yang Esa yaitu Brahmana (yang menciptakan), Wisnu (yang melindung dan memelihara), dan siwa (yang lebur). Selain itu masyarakat bali juga percaya kepada berbagai Dewa yana lain yang kedudukannya yang lebih rendah dari Trimurti, seperti dewa Wahyu (dewa angin), dan Dewa Indra (dewa perang). Agama Hindu di Bali juga mempercayai adanya roh abadi (Otman), buah dari setiap perbuatan (Karmapala), kelahiran kembali dari jiwa (Punarbawa) dan kebebasan jiwa (moksa), semua ajaran-ajaran itu berada di kitab Wedha.
            Tempat untuk melakukan persembahyangan (ibadah) agama Hindu di Bali dinamakan Pura atau Sangah. Tempat ibadah ini berupa sekelompok bangunan-bangunan suci yang sifatnya berbeda-beda. Ada yang bersifat umum seperti Pura desa dan ada yang sifatnya khusus yaitu Pura keluarga. Di bali terdapat beribu-ribu pura atau sangeh yang masing-masing pura tersebut mempunyai hari upacara (hari perayaan) tertentu sesuai denga perayaan leluhur mereka yang telah ditentukan oleh sistem tanggalanya sendiri-sendiri.
            Upacara tradisional khas Bali yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan adalah upacara Ngaben. Ngaben adalah upacara pembalkaran mayat di Bali. Dengan demikian, setiap orang yang sudah meninggal tidak cikubur melainka dibakar. Upacara  ini memerlukan biaya yang cukup besar, dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu saja. Sebalum dibakar terlebih dahulu orang yang meninggal diletakan di sebuah tandu panjang (seperti keranda), kemudian dibawa ketempat pembakaran. Tandu ini biasanya diangkat oleh empat sampai delapan orang yang merupakan kerabat atau saudara dekat dari orang yang meninggal. Dalam perjalanan pengiring mengucapkan puji-pujian dan nyanyian sebagai pemujaan yang dipimpin oleh pemangku setelah sampai di tempat pembakaran, sebelum masuk pintu, tandu tersebut diputar-putar sebanyak tiga kali, sebagai tanda penghormatan dan izin untuk memasuki tempat pembakaran. Setelah dibakar, kemudian abu tersebut di buang kelaut, ada juga yang disimpan di tempat khusus.
            Selain upacara Ngaben, ada juga upacara lain seperti upacara hariraya Nyepi, Ngebak Geni, Hari Raya Kuningan, Hari raya Galungan, dll.
            Keseluruhan upacara di bali dapart di kelompokan sebagai berikut :
  1. Manusia Nyadan, yaitu upacara siklus dari anak-anak sampai dewasa
  2. Putra Nyadan, yaitu upacara untuk roh-roh
  3. Dewa Nyadan, yaitu upacara pembesaran
  4. Buta Nyadan, yaitu upacara yang ditunjukan untuk roh-roh jahat

2.2.2.      Sistem Kasta
                        Akibat kuat agama Hindu, di Bali berlaku sistem kasta, yaitu pemisahan masyarakat berdasarkan kedudukan atau tingkat kehormatan. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat Bali dibedakan menjadi 4 Kasta, yaitu :
     1.  Kasta Brahmana
Kasta ini ditempati olah para dewa kerajaan, seperti pendeta. Kasta ini merupakan kasta tertinggi di bali, sehingga seseorang dapat menduduki kasta ini sangat dihormati oleh masyarakat umum atau kasta dibawahnya.
     2.  Kasta Ksatria
Kasta ini ditempati oleh para bangsawan kerajaan seperti raja, pangeran dan berbagai pengawal kerajaan seperti patih dan panglima perang, pejabat-[ejabat kerajaan yang diberi wewenang untuk memimpin daerah tertentu dibawah daerah kekuasaan raja. Kasta Ksatria dianggap kasta yang mempunyai gengsi dan martabat atau derajat yang tinggi bagi orang yang ada di dalamnya.
     3.  Kasta Waisya
Kasta ini di tempati oleh para petani dan pedagang. Petani di bali juga digolongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kekayaan material atas kepemilikana tanah, sawah dan tempat tinggal.
  • Petani Kelas Atas
Petani karya atas adalah mereka yang mempunyai penghasilan atas sawah atau ladang lebih dari cukup dan bisa di gunakan untuk mencukupi dan menghidupi seluruh keluarga dan saudaranya. petani karya atas ini memiliki sawah lebih dari 5 hektar dan juga memiliki tanah pekarangan beserta halman untuk rumah tempat tinggalnya. Bagi petani karya atas, penggarapan sawah tidak dilakukan sendiri, tetapi dengan cara mempekerjakan buruh tani atau dari kasta sudra.



  • Petani Kaya Sedang
Petani golongan ini mempunyai sawah dengan luas 1-5 hektar atau mempunyai sawah cukup luas, hingga hanya dapat mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri, tetepi untuk mencukupi kebutuhan saudaranya ditangguhkan.
  • Petani Kaya Bawah
Yaitu petani yang hanya mempunyai sawah kurang dari 1 hektar. Petani ini mengolah sendiri sawah mereka, hasilnya sebagai konsumsi pribadi beserta keluarganya.
     4.  Kasta Sudra
Kasta Sudra pada masyarakat bali yaitu mereka yang keberadaanya kurang dihormati. Golongan kasta Sudra ini tidak memiliki hak kepemilikan atas tanah pekarangan atau rumah tempat tinggal. Kasta ini merupakan kasta terendah dalam pembagian kasta di bali.

2.2.3.      Sistem Kesenian
            Sistem keseniandi bali antara lain tari-tarian Bali, rumah adat dan pakaian adat bali. Tari-tarian Bali seperti tari Legong dan tari Kecak sanat disukai oleh wisatawan. Tari Legomg merupakan tari yang menceritakan kisah cinta raja Lasem, sementara tari Kecak mengiahkan tentang Bola Tantra Kera Hanoman dan Sugriwa.
            Beberapa rumah adat di bali antara lain gapura candi Bentar yang merupakan pintu masuk istana raja. Balai Bengong yaitu tempat peristirahatan raja beserta kori Babetelan yaitu pintu masukuntuk upacara keluarga.
            Pakaian adat bali pria adalah ilat kepala (destar) kain songket Saput dan sbilah Keris yang diselipkan kepinggang bagian belakang. Sedangkan untuk wanita umumnya menggunakan dua helai kain songket, stangen Songket dan selendang, serta memakai hiasan bunga emas da bunga kamboja.

2.2.4.      Sistem Kekerabatan
Perkawinan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan manusia, demikian juga dengan masyarakat bali yang memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai warga masyarakat, untuk melakukan perkawinan.
Menurut ajaran adat lama yang banyak dipemgaruhi oleh sistem klan-klan (dadra) dan sistem kasta (wangsa), perkawinan dilakukan antara warga se-klan atau antara warga yang sianggap sederajat dalam kasta. Sementara perkawinan yang dianggap pantangan adalah perkawinan Bentukar (makadengan ngad) yaitu perkawinan antara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri, perkawinan ini dianggap pantangan karena menurut kepercayaan dapat mendatangkan bencana. Selain itu, perkawinan pantangan lain yang merupakan dosa besar adalah perkawinan antara seseorang dengan anaknya, seseorang dengan saudara kandungnya atau saudara tirinya dan antara seseorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya.
Pada umumnya pemuda di bali dapat memperoleh seorang istri dengan dua cara yaitu cara memina kepada keluarga si gadis atau dengan melarikan si gadis.kedua cara tersebut merupakan adat-adat perkawinan di bali. Kedua cara tersebut dilakukan dengan melakukan kunjungan resmi dari keluarga si pemuda kepada si gadis, guna meminang si gadis atau dengan memberitahukan kepada keluarga si gadis bahwa si gadis telah di bawa lari untuk di kawinkan. Kemudian diadakan upacara perkawinan dan kunjunga resmi dari keluarga si pemuda kerumah orang  tua si gadis untuk meminta diri kepada roh nenek moyang si gadis.
Setelaha menikah, biasanya pasangan suami istri baru menetap di kompleks perumahan dari orang tua si suami. Tetepi tidak sedikit suami istri baru menetap di rumah baru. Sebalikanya ada pula suatu adat perkawinan dimana pasangan suami istri baru menetap di kompleks perumahan keluarga si istri.

2.2.5.      Kehidupan Sosial Masyarakat Bali
     1.  Banjar
Merupakan bentuk kesatuan-kesatuan wilayah social yang didasarkan pada kesatuan wilayah. Kesatuan sosial tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara, upacara keagamaan yang keramat. Di daerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pada yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan di daerah datar, sifat keanggotaanya tidak tertutup dan terbataspada orang-orang asli yang lahir di Banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan kebatulan menetap di Banjar bersangkutan di pisahkan untuk menjadi anggota (karma Banjar) jika yang bersangkutan menghendaki. Pusat banjar adalah Bale Banjar, di mana warga Banjar bertemu pada hari-hari yang tetap. Banjar di kepalai oleh seorang kepala yang disebut kelai Banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan dari Banjar sebagai suatu komunitas, tetapi juga lapangan kehidupan beragama. Selain itu, ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut adat. Kadang kalian Banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan administrasi pemerintahan.
     2.  Subak
Subak di bali seolah-olah lepas dari Banjar, dan mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi warga Subak tidak semuanya sama dengan orang yang menjadi anggota Banjar. Warga Subak adalah oemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari bendungn-bendungan yang di urus oles suatu subjek.
     3.  Seka
Dalam kehidupan masyarakat bali, ada organisasi-organisasiyang bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus yaitu Seka. Orgsnisasi ini bersifat turun-temurun, tetepi adapula yang bersifat sementara. Ada seka yang fungsinya menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenaan dengan desa, misalnya Seka Baris (perkumpulan tari baris), Seka teruna-teruni, Seka tersebut sifatnya permanen. Dan yang bersifat sementara seperti Seka yang didirikan berdasarkan suatu kebutuhan tertentu, misalnya Seka Memula (perkumpulan menuai), Seka Gong (perkumpulan gamelan), Seka-seka tersebut biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi Banjar maupun desa.
     4.  Gotong Royong (Ngupoin)
Meliputi aktifitas disawah (seperti menanam,menyiangi, memanen, dll) dalam sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, memperbaiki sumur, dll), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yangdi adakan oleh suatu keluarga atau dalam peristiw kecelakaan dan kematian, Mgupoin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahw bantuan tenaga yang diberikan wajib di balas dengan tenaga juga.




BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Setelah menyusun karya tulis ini, penulis menyimpulkan :
  1. Pulau Bali sangat terkenal di dunia internasional karena memiliki keindahan alam dan seni budaya yang sangat menarik, serta masyarakat Pulau Bali dapat bersatu dengan alam Pulau Bali.
  2. Meskipun Bali banyak dimasuki oleh orang asing, tetapi masyarakat Pulau Bali dapat terus menjaga kebudayaan asli mereka.

3.2. Saran
Setelah mengetahui hasil observasi, penulis menyarankan :
  1. Hendaknya pemerintah Bali dan masyarakat Bali menjaga kebudayaan Bali yang merupakan bagian dari warisan leluhur bangsa Indonesia.















DAFTAR PUSTAKA

Brosur Mutiara Wisata. 2007.
Pedoman Penyusun Karya Tulis Siswa SMA Negeri 3 Pemalang. Pemalang.
Astika, Ketut Sudhana. 1999. Analisis Kebudayaan. Jakarta : Depdikbud.
Tim Antropologi. 1996. Panduan Belajar Antropologi kelas 3 SMU. Jakarta :                          Yudhistira.
Rifqi - Com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar